Posted by : SoftSkill Rabu, 09 April 2014



Kriiiiiiing”. Aku langsung terbangun dari tidurku. Aku langsung mandi, sarapan dan berangkat ke sekolah. Oh iya, aku Aldi murid kelas 11 SMA. akuberangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor.
Sesampainya di kelas, jarum jam baru menunjukan pukul 6.35 sedangkan bel jam 7.00. Akhirnya ku keluarkan HP dari saku seragam dan memainkan game yg ada disitu. Saat sedang main HP tiba - tiba “Eh, Nadila Uty tungguin gue!”. Aku mengalihkan pandanganku dan melihat 3 anak perempuan di depan kelas. “Lo bertiga bisa gak sih sehari aja gak bikin ribut?”. “Maaf di”, jawab salah satu dari mereka. Mereka adalah Viny, Uty, dan Nadila. 3 orang cewek yg duduk di depan dan belakangku. Mereka juga bisa dibilang sahabatku. Aku melanjutkan permainan yang tadi sempat di pause.
Bel masuk telah berbunyi semua murid dan wali kelas telah masuk ke kelas. Aku mencolek bahu Uty “Eh ty si Risky mana?”, tanyaku. Risky adalah sahabatku sekaligus teman sebangku Uty. Uty hanya mengangkat bahunya menandakan tidak tahu apa – apa. Tiba – tiba ada seorang murid laki – laki  yang berlari menuju ke kelas. “Risky kenapa kamu telat?”, Tanya guruku saat ia telah sampai di kelas. “Kesiangan bu”, jawabnya sambil memegang lehernya. “Yaudah, karena kamu baru telat sebentar ibu izinkan duduk”. Risky langsung duduk di tempat duduknya yang berada di depanku.
“Eh bro kayaknya mau ada murid baru cewek deh”, kata Risky kepadaku
“Tau darimana lo?”, balasku. “tadi gue liat di ruang kepsek”, jawabnya.
Tiba – tiba kepala sekolah masuk ke kelasku. “Anak – anak hari ini di kelas kalian bakal ada murid baru. Nak ayo masuk”, kata kepala sekolah sambil memanggil murid baru itu. Kemudian masuk seorang cewek cantik. “Sekarang kamu perkenalkan diri kamu. Ibu balik ke ruangan ibu dulu”, kata kepala sekolah. Cewek cantik itu memperkenalkan dirinya, “Nama saya Shinta Naomi pindahan dari Bandung. Salam kenal”, katanya sambil tersenyum. Kurasa senyumannya bisa membuatku mimisan. “Naomi kamu boleh duduk di sebelah Aldi”. Eh di sebelah gue? Bisa – bisa gue mimisan setiap hari >_<
Ia duduk di sebelahku lalu mengulurkan tangannya “Shinta Naomi”, katanya. “Aldi”, balasku. Si Risky, Uty, Nadila, dan Viny mendadak ribut berkenalan dengan Naomi. Pelajaran pun di mulai seperti biasa.
Skip~>
Akhirnya istirahat juga. Otak udah mau pecah gara – gara pelajaran matematika. “Gimana hari pertama di sekolah baru”, tanyaku ke Naomi. “Pusing, pelajarannya susah”, jawabnya sambil tertawa kecil. “Mau ke kantin gak? Gue udah laper nih”, tanyaku. “Mau deh”, jawabnya sambil tersenyum. “Aldi sekarang gitu ya. Ada cewek cantik kita ditinggalin”, kata Uty. “Yaudah lo berempat mau ikut gak?”. “Mau!”, jawab mereka berempat serempak.
Akhirnya kita berenam ke kantin bareng. Sesampainya di kantin “Mau duduk dimana?”, Tanya Risky. “Tempat biasa aja ky”, jawabku. Kita menuju ke salah satu meja yang sering kita pakai berlima. “biar gue aja yang mesenin. Lo pada mau makan apa?”, tanyaku. “Gue mie ayam sama es jeruk”, kata Uty. “Gue bakso sama es teh manis”, kata Viny. “Gue samain Uty”, kata Nadila. “Gue juga sama kayak Uty”, kata Risky. “Naomi, lo mau apa?”, tanyaku ke Naomi. “Aku ikut kamu aja deh. Soalnya aku belum tau makanan apa aja yang ada disini”, jawabnya. “Yaudah yuk pesen”.
Aku dan Naomi menuju tempat untuk memesan makanan. “ Mau apa?”, tanyaku ke Naomi. “Mie ayam sama es teh manis deh”. “Bu, mie ayam 4 bakso 2 es jeruk 3 sama es teh manis 3. Ini uangnya bu” “dianter ke meja biasa ya bu”. Setelah makanannya diantar kita langsung melahapnya sampai habis. Setelah itu kami kembali ke kelas karena bel sudah berbunyi.
Skip~>
Akhirnya pulang juga. Otakku sekarang sudah penuh dengan rumus – rumus fisika. Aku sedikit menyesal Karena sudah mengambil jurusan IPA. “eh rumah lo dimana?”, tanyaku ke Naomi. “di komplek Permata Hijau”, jawabnya. “eh rumah gue juga disitu. Mau pulang bareng?”, kataku. “Gak deh di aku mau nunggu sinka, adikku”.
“ohh. Boleh minta nomor telepon sama alamat gak? Siapa tau gue mau telpon lo atau ke rumah lo”
“Boleh kok. Catet yah. Nomor telepon aku 08121798*** kalo alamat aku komplek permata hijau blok G no 48”
“Makasih ya Shin”. Sebenernya aku sedikit kecewa karena tidak bisa pulang bareng Naomi hari ini. Tapi seenggaknya aku dapet no telp sama alamatnya. Aku langsung pulang menuju ke rumah.
Sesampainya di rumah aku langsung menuju ke kamar dan menyalakan laptopku. Aku langsung membuka browser dan menuju ke www.twitter.com dan log in ke twitterku. Aku mengetik ‘cantik banget ya tuhan’ lalu memencet ‘tweet’. Beberapa menit kemudian aku mendapat mention dari Uty. ‘cie Naomi ya’. Kujawab ‘kepo lo :p’. lalu aku menutup laptop ku. Aku mengambil ponselku lalu mengirim sms ke Naomi.
‘Naomi, mau jalan bareng gak? Aldi J’.
 ‘kemana?’.
‘Ke taman komplek aja. Nanti gue jemput’
‘Mau deh’
‘Jam 4 gue jemput ya’
Setelah itu tidak ada balasan dari Naomi. Aku langsung siap – siap karena sebentar lagi jam 4. Setelah itu, aku turun dan mengambil kunci motorku. “Mau kemana kak?”, Tanya Ayana, adikku yang sedang menonton televisi. “Mau jalan sama temen”, jawabku. Kunyalakan motorku dan langsung ke rumah Naomi. Setelah sampai aku mengirim SMS ke dia. “Gue udah di depan rumah lo nih. Blok G no 48 kan?”. Beberapa saat kemudian Naomi keluar dari rumahnya. “Maaf ya lama”, katanya. “nggak kok. Yuk berangkat”, jawabku. Dia segera naik ke motorku dan aku langsung melajukan motorku menuju taman.
Gimana tamannya bagus kan?”, tanyaku saat kami sudah sampai di taman. “Bagus kok di”, jawabnya. “Tunggu disini bentar ya”, kataku. Aku mencari tukang es krim. “Bang yang rasa vanilla 2 ya”, kataku. Tukang es krim langsung mengambil es krim dan memberikannya kepadaku. “Harganya berapa bang?”. “4 ribu dek”. Aku memberikan selembar uang 5 ribu sambil berkata, “Kembaliannya ambil aja bang”.
Aku kembali ke tempat Naomi dan memberikan es krimnya “Nih buat lo”. “Makasih ya di”, katanya. Kami menghabiskan es krim masing – masing. “eh di, disini ada ayunan gak?”, tanyanya. “ada kok. Mau naik?”, kataku. Ia mengangguk. Aku menarik tangannya dan membawanya ke tempat ayunan. Naomi langsung duduk di salah satu ayunan aku pun mengikutinya. Setelah itu kami mengobrol sambil melihat langit mentari senja.
6 bulan kemudian.....
setelah bersahabat dengan Naomi selama 6 bulan. Kurasa aku telah jatuh cinta kepadanya. Setelah lama mempertimbangkan aku memutuskan untuk menyatakan cintaku hari ini.
Saat istirahat aku mengirim pesan singkat kepadanya. ‘Naomi ke taman belakang ya. Gue tunggu lo disana’. Aku sudah menunggu di taman belakang. 5 menit kemudian Naomi datang. “Naomi! Sini”, kataku. “ada apa di?”. Aku tak menjawab pertanyaanya aku langsung menyatakan perasaanku, “Naomi, kita kan udah sahabatan 6 bulan. Gue rasa gue jatuh cinta sama lo”. Mukanya terlihat kaget saat aku berkata itu. Aku melanjutkan perkataanku “Kamu mau nggak jadi pacar aku?”. Ia tampak kaget lalu ia menjawab pertanyaanku “Maaf di. Aku nggak bisa jadi pacar kamu”, jawabnya sambil menduduk. Saat ia bersiap untuk pergi aku menarik tangannya. “Kenapa?”, tanyaku sambil menatap matanya. “A-Aku gaada rasa sama kamu di. Aku cuma anggap kamu sebagai sahabat. Gak lebih. Maaf”, jawabnya lalu berlari.
Aku sedikit kecewa dengan jawabannya. Tapi, aku tidak bisa memaksakannya. Aku kembali ke kelas dengan perasaan kecewa. Aku langsung duduk di bangkuku. Tak lama kemudian bel berbunyi. Semua murid kembali ke kelas termasuk Naomi. Ia duduk di sebelahku. “Maaf ya yang tadi”, kataku kepadanya. “Nggak apa – apa kok di”, jawabnya sambil tersenyum
Keesokan harinya.....
Bel masuk sudah berbunyi 1 jam yang lalu. Tapi, bangku di sebelahku masih kosong. Ya Naomi tidak masuk hari ini. Aku bertanya kepada Nadila yang duduk di belakangku “eh Nad. Lo tau nggak Naomi kemana?”. “Gatau di. Gue gak dapet kabar sama sekali”. Aku berpikir kalau ia kesiangan hari ini.
3 hari kemudian...…
3 hari kemarin Naomi tidak masuk. Nggak mungkin kan kesiangan 3 hari berturut – turut. Aku memutuskan untuk datang ke rumahnya jika ia tidak masuk lagi hari ini.  Bel sudah berbunyi dan Naomi belum juga dateng. Dia kemana sih. “Di, Naomi gak masuk lagi?”, Tanya Viny. “Kayaknya enggak deh Vin”, jawabku. Sepanjang pelajaran aku tidak bisa fokus. Pikiranku hanya memikirkan Naomi. Kemana ia selama 4 hari ini.
Bel pulang akhirnya berbunyi. Aku langsung menuju ke rumah Naomi. Sesampainya di rumah Naomi aku memencet bel yang ada di depan rumahnya. Beberapa saat kemudian keluar seorang cewek yang mirip dengan Naomi. “Ada apa ya kak?”, tanyanya. “Itu dek. Naomi kemana ya? Kok udah 4 hari dia gak masuk”,tanyaku. Wajahnya seketika berubah.
“Kakak temennya cici ya?”, tanyanya
“Iya. Aku Aldi” ,jawabku sambil mengulurkan tanganku
“Aku Sinka adiknya”, jawabnya sambil membalas uluran tanganku.
“Cici lagi gak di rumah. Kalo kakak mau ketemu nanti aku tunjukin jalannya. Kebetulan aku lagi mau kesana”, lanjutnya
Akhirnya aku pergi bersama Sinka. Dia menunjukkan jalan ke tempat Naomi. “kak berhenti disini”, katanya saat kami melewati rumah sakit. “Kok disini Sin?”, tanyaku. “udah kakak ikut aja”, katanya. Akhirnya aku mengikutinya.  Kami masuk ke dalam rumah sakit dan berhenti di salah satu ruangan. “Nah, udah sampai kak”, kata Sinka. Aku sedikit bingung tapi kemudian aku membuka pintu ruangan itu. Lalu, aku masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan itu ada Naomi sedang berbaring di tempat tidur dengan masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya. Aku membalikan badanku dan menatap Sinka. “Naomi kenapa?”. “Jantungnya cici bocor kak. 4 hari yang lalu aku nemuin dia di kamarnya udah pingsan”, jawabnya. “Sejak kapan dia sakit?”, tanyaku lagi. “Sejak dia kecil”
Kulangkahkan kakiku ke tempat tidur tempat Naomi berbaring lalu aku duduk di sebelahnya. “Lo kenapa? Bangun dong. Gue kangen nih”, kataku. “Kita udah 3 hari gak ketemu pas ketemu lo nya malah kayak gini”, lanjutku.
Kurang lebih 1 jam aku berada disitu. Saat aku mau pulang tiba – tiba aku melihat tangan Naomi bergerak dan matanya terbuka perlahan – lahan. “Udah bangun?”, tanyaku ke Naomi. Dia tak menjawabku. “Sinka panggilin dokter gih”, perintahku ke Sinka. “Gausah dek”, kata Naomi. Sinka mendekati Naomi. “Makasih ya udah jadi adek yang baik”, kata Naomi. “Kalo misalnya cici pergi Sinka jangan sedih ya”, lanjutnya. Aku bingung kenapa ia berbicara seperti itu. “Kok cici ngomong gitu sih?”, Tanya Sinka. “Tau, kok lo ngomong gitu sih”, kataku menyetujui Sinka. Naomi tidak menjawab pertanyaan kami berdua Ia malah berkata, “Di makasih ya udah sahabat yang baik buat aku. Udah jadi teman sebangku yang baik”.
Wajah Naomi Nampak kesakitan. “cici kenapa?”, Tanya Sinka. “Cici gapapa kok Sin”, jawab Naomi sambil menahan rasa sakit. “Kalo sakit biar gue panggilin dokter”, tawarku. “Gausah di. Sampein aja terima kasih aku buat Risky, Viny, Uty sama Nadila”, jawabnya. Aku tambah khawatir dengan kondisi Naomi. “Udah ya Di, Sin aku mau istirahat dulu. Aku capek”, lalu ia menutup matanya. Awalnya ku kira ia hanya tidur. Tapi, tiba – tiba ‘Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit’. Aku panik. Aku belum mau kehilangan dia. “Sin panggil dokter”, suruhku ke Sinka. Aku menggoyang – goyangkan tubuh Naomi berharap dia bangun.
Tak lama Sinka datang bersama seorang dokter. Dokter itu menyuruh kami berdua keluar. Sinka menangis di sebelahku. Aku merangkulnya “jangan nangis lagi dong Sin”, kataku. Tiba – tiba Sinka memelukku dan menangis di pelukanku. Aku mengelus – elus punggungnya. “Kamu udah telepon mama kamu belom?”, tanyaku. Sinka langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon mamanya.
Saat Sinka sedang menelpon mamanya dokter keluar. Aku langsung bertanya ke dokter, “Gimana dok?”. Dokter hanya menggeleng pelan. Aku mengerti maksudnya bahwa Naomi tidak bisa di tolong lagi. “innalillahi wa innailaihi rojiun”, ucapku. Tangisan Sinka semakin deras. Aku mencoba menenangkannya dan berkata, “Sabar ya. Aku juga ngerasain apa yang kamu rasa kok”. Beberapa saat kemudian mama Naomi datang. Aku langsung pamit pulang karena takut ibuku mengkhawatirkanku.
Sesampainya di rumah ibuku langsung bertanya, “Kamu habis kemana jam 5 baru pulang?”. “Habis ketemu temen mah”, jawabku asal. Aku langsung menuju ke kamarku dan mengeluarkan ponselku. Aku mencari nama Risky di kontak lalu menelponnya.
“Halo ky”
“kenapa di?”
“Naomi ky”
“Naomi kenapa? Lo jadian sama dia?”
“Nggak. Dia udah gaada ky”
“Di, lo bohong kan.”
“Gue gak bohong ky barusan aja dia meninggal”
“Karena apa?”
“Sakit. Jantungnya bocor. Sampein ke temen – temen ya. Kata Naomi terima kasih buat lo, Viny, Uty sama Nadila”
“Iya nanti gue sampein. Udah ya”
Aku mematikan sambungan telepon tersebut. Kurebahkan badanku di tempat tidur. Aku masih tidak percaya ia bakal pergi secepat ini. Aku mencoba menegarkan diriku sendiri.
Tak lama kemudian ponselku bergetar. Aku melihat ke layar. Ada telepon dari Viny. Mungkin Risky sudah memberitahunya. Aku segera mengangkatnya.
“Kenapa Vin?”
“Di, lo bohong kan sama kita! Naomi masih ada kan”
Viny berbcara sambil terisak – isak. Kurasa dia menangis
“Gue gak bohong Vin. Tadi gue liat sendiri”
“Tapi kan, dia masih 16 tahun. Kemaren – kemaren dia juga masih sehat kok”, kata Viny. Sepertinya tangisannya makin deras
“Kita gak pernah tau rencana tuhan Vin. Gue juga gak nyangka dia bakal pergi secepat ini. Udah lo jangan nangis lagi. Hapus air mata lo. Gue paling gasuka ada cewek nangis”
“Iya. Udahan ya di”
 Sambungan telepon pun terputus
Keesokan Harinya......
Naomi baru saja dimakamkan. Semua orang sudah pulang kecuali aku. Aku masih belum bisa merelakannya. Aku berdiam disitu sekitar 30 menit. Tiba – tiba Sinka datang. “Kak kok belom pulang”, tanyanya. “Gapapa. Mau disini aja”, jawabku. “Ini buat kakak dari cici”, katanya sambil memberikanku surat beramplop ungu. “Baca di rumah ya kak”, lanjutnya lalu langsung pergi lagi. Aku akhirnya pulang untuk membaca surat itu
Sesampainya di rumah aku langsung membaca surat itu
Hai di. Waktu kamu baca surat ini, mungkin aku udah gak ada di dunia ini. Aku sakit di. Jantung aku bocor. Maaf ya aku gak bilang ke kamu dari lama. Aku gak pingin bikin kamu dan teman – teman yang lain khawatir. Maaf ya. Sebenarnya, aku juga suka sama kamu tapi, aku gak mau ngerepotin kamu. Terima kasih ya buat kamu dan semua teman – teman yang udah ngisi sisa hidup aku. Di, mungkin aku emang pergi dari kehidupan kamu. Tapi, aku harap aku gak pergi dari hati kamu. Tapi kamu harus bisa buka hati kamu buat orang lain. Udah ya, segini aja.
                            Naomi
Kamu gak bakal hilang dari hati aku kok. Dan aku juga bakal berusaha buat buka hati aku. Selamat tinggal Naomi.
~The End~

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Total Tayangan Halaman

Translate

Blog Archive

Twitter

Copyright © Detective 48 Family -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan