Posted by : SoftSkill Rabu, 09 April 2014

BQ31k9KCIAEqBTj
Namanya Ratu Vieny Fitrilya. Dia pacar ku. Entah apa yang membuat ku bangga akan kenyataan bahwa aku bisa memilikinya. Walaupun baru berjalan sekitar dua minggu, aku sangat bahagia karena dia menerimaku sebagai ‘pacar’ yang benar-benar dianggap. Mungkin karena selama ini aku selalu gagal dalam masalah asmara, bukan gagal dalam artian jomblo dalam waktu yang lama, tetapi hubungan asmara selama ini selalu gagal dalam waktu singkat.
Vienny adalah anak seorang Anggota DPR. Aku sering merasa minder kalau menjemputnya untuk jalan, dengan motor ku ini. Tapi dia tidak pernah memikirkan itu. Tidak sedikitpun dia menatap ku sebelah mata hanya karena aku seorang anak dari kalangan menengah. Lagipula, Vienny mengenal ku akrab sejak kami masih duduk di bangku SMP, ketika itu dia baru naik ke kelas 2 SMP sedangkan aku berada 1 tahun diatasnya, kelas 3 SMP. Mungkin itu, penyebab ia bisa menerima ku apa adanya.
Aku dan Vienny sekarang sudah menjadi mahasiswa, aku sudah memasuki Semester 3 sedangkan dia baru memulai perkuliahan sebagai Mahasiswa Baru pada tahun ini. Dia sekarang sedang duduk di samping ku. Sejak tadi ia terus bercerita tentang banyak hal. Seperti liburan Ujian SMA lalu ia pergi ke Tokyo. Karena dia telah melewati Ujian SMA dengan hasil yang cukup memuaskan sehingga dia bisa mendapatkan izin orang tua untuk liburan kesana. Vienny memang gadis yang bersemangat, dia memiliki senyuman yang sangat indah untuk ditatap, dengan matanya yang juga kelihatannya seperti ikut senyum mengikuti bibirnya yang indah.
“Tau gak? Kemaren papah beliin aku sesuatu, tapi akunya ga suka. Aneh aja soalnya kalau dipakai. Aku kan sukanya Barcelona, malah dikasih baju Real Madrid. Huft.” Kata Vienny sambil menggelengkan kepala dan bibir dia yang sedikit manyun tanda bahwa ia cemberut.
“Hahaha. Iyasih, tapi papah kamu udah beliin jauh-jauh loh dari Madrid waktu liburan kemaren kan. Biarpun kamunya ga seneng, mendingan disimpan aja. ” Aku menjawab sambil melemparkan senyum kearahnya.
“Iyadeh iya. Bakalan aku simpan ko itu bajunya hehe.”
“Dasar kamu ini. Emm.. kita pulang, yuk. Udah sore banget.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sejak tadi siang, kami sudah berada di sini, di kantin kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik yang cukup elite dan ramai pengunjung. Aku agak risih juga, karena Vienny yang bayar. Padahal aku sudah berdiri dan ingin membayar, tetapi Vienny menarik tanganku dan ngomong kalau dia yang bayar semuanya.
Akhirnya aku mengajak Vienny untuk pulang. Sudah beberapa jam dan ku rasa sudah cukup lama kami bertengger di kantin. Aku segera mengambill kontak motor ku, dan mempersilahkan Vienny untuk naik.
“Oia, kita mampir kerumah Noel dulu ya, ada barang yang aku pesen sama dia dan tadi dia BBM kalo barang aku udah datang” pinta Vienny saat aku sudah mulai menarik gas motor.
“Oke… oke..” kata ku.
Noel adalah teman sekelas Vienny sesama Prodi (program studi) Teknik Informatika, sedangkan aku adalah mahasiswa Manajemen. Aku tidak terlalu mengenal Noella, tapi menurut cerita Vienny, dia adalah keluarga jauh nya.
Sesampainya di sana, tiba-tiba saat hendak mematikan kontak motor, Vienny berkata keapada ku..
“Kamu pulang duluan aja, ya.. Hm.. aku ada urusan keluarga gitu. Ntar papa aku yang jemput ke sini”
“Yaudah.. Aku pulang, ya. Kamu jangan lupa hubungin aku kalau butuh apa-apa..”
“Iya sayang..” lalu dia tersenyum.
Ya, itulah aku. Aku rela melakukan ‘apa yang aku bisa’ untuk Vienny. Dia mau menerima ku saja, sudah suatu anugerah, masa’ aku tidak melakukan apa-apa untuknya? Pikir ku. Aku berlalu, segera menuju rumah, dan sesaat senyuman ku terbawa arus angin senja.
**
Seperti biasa, aku bangun pagi dengan langsung mengecek handphone. “Tidak ada lagi,” gumam ku. Iya, sejak kemarin sore, Vienny tidak menghubungi ku sama sekali. Aku hubungi dia pun, nomor nya seringkali tidak aktif. Tapi aku mencoba berpikir positif, toh aku baru dua minggu berpacaran dan belum tahu kegiatan apa saja yang sering Vienny lakukan setelah lulus SMA dan resmi menjadi mahasiswa. Kekhawatiranku berlanjut dan akupun bergegas menuju kamar mandi.
Seusai mandi dan bersiap-siap, aku segera menuju kampus karena ada kelas pagi. Kali ini aku sedikit memakai gel rambut, agar terlihat lebih fresh di mata Vienny. Hehehe.. aku tidak sabar bertemu lagi. Setelah berpamit pada orang tua, akupun memanaskan motor bersiap pergi menuju kampus.
Di kampus, sesaat setelah aku baru saja menempatkan motor di parkiran, handphone ku menerima sebuah pesan. Vienny!
‘Tunggu aku di kantin kemarin, ya.. aku pasti datang. Aku sayang kamu :*
Aku tersenyum dan bergegas menuju kelas dengan niatan ‘pengin cepat pulang’. Selama di kelas pun, tidak henti-hentinya aku tersenyum layakya penderita gangguan jiwa. Hahaha.. ada apa dengan ku..?
Aku tidak tahu, yang jelas.. perasaan sayang kepada Vienny sekarang sudah tidak sekecil dulu. Perlahan.. perasaan ini kian membesar seiring senyum Vienny yang selalu menyemangati hari ku.
 **
Usai dari kelas, aku segera menuju kantin tempat kami bertemu kamarin. Aku lihat cuaca tidak begitu mendukung. Perlahan langit semakin mendung tidak terkira. Hmm.. semoga Vienny datang.. pikir ku.
Aku masih menunggu nya. Sudah cukup lama aku berada di kantin ini, dan sekarang sudah menjelang jam 4 sore sejak tiga jam lalu aku menunggu. Ku hubungi pun, handphone nya tetap tidak aktif. Ah! aku mulai kesal.
Lama aku menunggu, hingga akhirnya hampir senja juga. Aku mulai ragu apakah Vienny akan datang. Lagipula hujan sudah turun selama beberapa saat. Kantin ini juga sudah akan tutup karena memang tidak buka sampai malam. Aku menyerah..
“Bu, berapa semua?” kata ku, yang menanyakan bill pesanan makan dan minuman selama aku menunggu Vienny sejak tadi.
“Tiga puluh ribu, Mas..”
Aku merogoh saku, membayar dan kembali menuju meja ku tadi. Niat ku untuk menunggu, telah muncul kembali.
“Saya masih boleh duduk di sini Bu??” kata ku dari arah meja, “masih hujan..”
“Iya silahkan, Mas..” jawab ibu penjaga kantin sambil sibuk membereskan dagangannya. “Saya juga belum mau pulang”
“Ah.. terima kasih Bu..”
Aku masih menunggu. Sesaat aku termenung, seperti merasakan suatu firasat buruk. Aku mencari handphone ku di saku jaket. Ternyata benar, ada SMS dari Vienny. Rupanya selagi aku melamun, tidak terasa handphone ku bergetar.
‘Aku sedang menuju ke sana.. Tunggu aku..’
Hah? Aku mencoba menghubunginya. Aku khawatir, kalau-kalau terjadi sesuatu sementara hujan sudah semakin lebat. Tapi lagi-lagi.. handphone nya tidak aktif. Ah.. aku hanya bisa menarik nafas tanda berpasrah.
Kurang lebih jam 8 malam, hujan masih turun dengan sangat lebat. Ibu kantin sudah menutup sebagian warung dan membereskan beberapa kursi dan meja, kecuali tempat ku ini. Kelihatannya ibu itu juga belum mau pulang karena dia juga memakai motor. Aku bisa sedikit bernafas lega, karena aku masih bisa duduk di sini.
Tidak lama kemudian..
“Sayang..” Seseorang menepuk punggung ku.
“Vienny? Kamu hujan-hujanan?” Iya, Vienny, dia berada di belakang ku sambil menyedekapkan tangan dengan tubuh yang basah. Saat aku bertanya, ia hanya tersenyum.
“Bodoh..” kata ku, lalu melepaskan jaket dan ku pakaikan ke Vienny. “Kenapa mesti hujan-hujanan begini sih? Kalau kamu sakit gimana? Jangan diulangin untuk kedepannya! Aku gamau kamu kenapa-napa!!”
“Aku kan nggak mau buat kamu kecewa.. Aku yang janji mau ketemu kamu, kan?” kata Vienny, dengan muka yang pucat dan bibir nya yang terlihat menggetar karena kedinginan.
“Tapi begini kan, jadinya.. aku khawatir nanti kamu sakit..” kata ku, lalu memindahkan tempat duduk tepat ke sebelah nya. Aku mendekap Vienny, dan melingarkan tangan kanan ku di punggungnya. Seketika, dia menyandarkan kepala di dadaku. Aku rasakan.. dingin.
Iya tubuh Vienny masih terasa dingin walaupun aku sudah memberikan jaket ku kepadanya. Aku rasakan.. sejenak semesta ku hanya mengizinkan satu nama yang ada di batin ku. VIENNY.
“Permisi, Mas, saya pulang duluan!” tiba-tiba ibu penjaga kantin membuyarkan lamunan ku. Ekspresinya telihat sangat tergesa-gesa. Padahal, hujan masih sangat lebat dan kini disertai hentakkan petir yang dahsyat.
“Ah.. ibu buru-buru sekali.. hati-hati ya!” kata ku, sambil tersenyum.
Ibu itu tidak menjawab, seketika menaiki motornya dan berlalu membelah rintikan hujan. Aku bingung, namun mencoba kembali mengambil fokus pada gadis di sebelah ku ini.
“Kayaknya belum bisa pulang, nih. Hujannya masih lebat banget“ aku mencoba menenangkan Vienny dengan sedikit membuka topik pembicaraan.
“Biarlah.. aku masih pengin lama-lama sama kamu..”
“Woow.. ya Tuhan.. ini nggak ngimpi, kann??” tambah ku, dengan sedikit bercanda.
Dia hanya tersenyum, dan kini membalas pelukan ku semakin erat. Kami saling menyandarkan kepala. Perlahan… banyak kisah yang terlontar dari mulut kami. Indah… dan aku hanyut sekali lagi.
**
Perlahan, aku merasakan pening dan seketika bergumam, “Aku di mana?”
“Mas.. gimana sih, kok malah tidur di sini,” seru seorang satpam yang berdiri di depan ku. Aku perlahan mengangkat kepala. Ya.. aku tertidur di meja kantin. Sesaat aku melihat jam tangan.Ah.. udah jam tujuh pagi..
“Waduh!!” Aku teringat sesuatu yang lebih penting. “Pak, lihat cewek yang sama saya nggak? Di sini!” kata ku sambil menunjuk bangku yang Vienny duduki semalam.
“Cewek mana toh, Mas?? Wong situ sendirian aja. Atau jangan-jangan mas semalem habis mesum, ya? Ngaku!”
Aku malah semakin bingung mau bicara apa. Ck ah.. aku berlalu, kalau diteruskan, aku bisa dapat masalah jika masih berurusan dengan satpam itu.
“Mesum gimana pak. Saya aja lagi bingung cari Cewek yang ada sama saya semalam. Yaudah pak, saya pergi dulu.” kata ku sambil melambaikan tangan. Mengambil kontak motor, dan pergi.
“Woalaah… dasar bocah gendheng!” teriakan pak satpam terdengar di telinga ku. Aku hanya tertawa.
Di perjalanan pulang, aku mendapat telepon. Aku angkat.
“Kamu ke mana aja? Ini jasad Vienny sudah mau dimakamkan!!” kata Noella, teman sekaligus keluarga Vienny
“Apa??!!” Seketika aku merasakan motor ku tidak seimbang. Dan jelas saja, aku terdiam dan sesaat menabrak trotoar. Aku pasrah..
Setelah bangkit dari jatuh, aku segera berlari menuju Tempat Pemakaman Umum yang tidak jauh dari tempat ku jatuh. Aku sudah tidak perduli pada apapun. Yang hanya ada dalam pikiran ku sekarang adalah berita kematian Vienny.
Akhirnya aku telah sampai. Dan benar saja, di sana ramai sekali, terutama dari kalangan pemerintah. Aku menangis.. Luka pada siku akibat jatuh tadi, tidak terasa lagi. Hati ku.. jauh lebih tersiksa.
Aku berlari menuju ke arah segerombol orang yang sedang mengelilingi kuburan yang masih belum berisikan jasad. Aku lihat keranda mayat berlapiskan kain hijau masih dipanggul oleh beberapa pria termasuk ayah Vienny.
“Vienny!!!” aku berteriak, tangisan ku sudah semakin menjadi-jadi sehingga aku tidak perduli terhadap siapapun yang menatap ku.
Di saat yang bersamaan, ayah Vienny memberikan posisi nya yang semula mengangkat keranda, kepada orang lain. Lalu beliau menuju ke arah ku dengan tatapan kosong.
Plakk!
Dia menampar ku. “Kenapa Oom?? Apa salah saya??!!”
“Kamu!! Gara-gara kamu. Anak saya jadi begini!! Kurang ajar kamu!”
Seketika orang-orang termasuk ibu Vienny, menghampiri dan berusaha menenangkan ayah Vienny. Ada apa ini? Pikir ku, sambil masih memegangi pipi yang terkena tamparan cukup kuat dari ayah Vienny.
“Sudah, Pak. Cukup. Apa yang bapak lakukan sekarang ini tidak bisa mengubah semuanya” kata ibu Vienny, lalu ia menatap ku, “Nak Herlambang, sebaiknya kamu pergi dulu, ya. Tante minta maaf atas perlakuan suami tante. Mohon pengertiannya.”
“Tapi tante.. Saya..”
“Pergi!!” bentak ayah Vienny, tiba-tiba. Aku hanya bisa berbalik.. dan meninggalkan pemakaman dengan hati yang semakin pedih. Perasaan yang campur aduk, di warung dan terjebak hujan ditemani oleh Sang Kekasih kemarin malam hanyalah ilusi, dan aku pun pasrah menerima semua kenyataan ini.
**
Tiga hari berlalu semenjak kejadian memilukan itu. Sekarang, aku sedang meng-amin-kan doa di makam Vienny. Ini pertama kali aku berani berkunjung ke sini karena ku rasa sepi.
“Hey..”  Terdengar suara wanita dari arah belakang ku. “Sudah ku duga, kamu pasti di sini”
“Hey..” kata ku, pada Noel, teman sekaligus keluarga Vienny.
“Oh, iya, kamu belum cerita kenapa ini semua bisa terjadi?” Tanya ku, yang baru saja sadar kalau selama ini belum mengetahui perihal kepergian Vienny untuk selamanya.
“Jadi begini..” lalu Noel bercerita kepada ku..
Alangkah terkejutnya aku yang mengetahui, bahwa Vienny telah mengalami koma saat aku sedang menunggunya di kantin. Ternyata hari itu adalah hari pertunangan Vienny dan Andre, yang secara mendadak dibuat oleh ayahnya. Andre adalah anak seorang pejabat yang selama ini adalah sahabat kecil dari Ayah Vienny. Selama ini ayahnya hanya memberitahu kalau Andre keluarga jauh, padahal, Andre adalah calon menantu incaran ayahnya.
Vienny yang marah akan perlakuan ayahnya, mendadak hilang akal dan berlari meninggalkan rumah. Hingga tanpa diduga, sebuah mini bus menabraknya hingga mengakibatkan pendarahan di kepala. Sesaat setelah itu, ia dilarikan ke rumah sakit dan mengalami koma dengan keadaan yang sangat kritis, hingga paginya. Harus terpaksa meninggalkan dunia.
Aku masih merinding mendengar cerita dari Noel. Lalu.. siapakah yang menemani ku malam itu? Hatiku dipaksa untuk terus memikirkannya. Aku menangis.
“Apa itu, caramu untuk tetap meyakinkan aku bahwa sebenarnya aku lah yang kamu ingikan?” Gumamku dalam hati sambil di selingi isak tangis.
Perlahan Noel mengajak aku untuk pulang. Aku mengikuti Noel dengan langkah yang lumayan berat. Namun, sesaat seletah membalikkan badan dari makam, aku mendengar.
‘Iya. Aku hanya ingin, malam terakhir ku, bersama kamu…’
Aku menoleh ke arah makam Vienny. Perlahan aku tersenyum. Semerbak wangi melati menyegarkan indera pernafasan ku. Aku bergumam kecil.
“Terima kasih.. Telah menyayangi ku.”
TAMAT

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Total Tayangan Halaman

Translate

Blog Archive

Twitter

Copyright © Detective 48 Family -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan