Posted by : SoftSkill Kamis, 10 April 2014


 
Pagi yang cukup cerah ini aku buka dengan melihat senyuman manis wajahnya walau hanya dibalik sebingkai foto kenang-kenangan SMP.
Aku berjalan dengan perlahan, ku mantapkan hati ini untuk menghadapi Ujian Nasional tingkat SMA hari terakhir, sudah sekitar 6 bulan lebih aku persiapkan semua untuk masa depanku nanti. Dan inilah hari terakhir aku menjawab LJK kosong itu dengan kemampuan maksimalku ini.
Bel pun berbunyi, dengan tenang ku baca dan kupahami semua isi soal itu sampai selesai. Aku baca hamdalah dan aku keluar dengan perasaan yang agak “dag-dig-dug”. Setelah LJK yang tadi ku isi sudah selesai, aku melihat perempuan itu menangis.
"Sonyaa.." Sapaku dengan sedikit aneh.
"Eh, kamu.."
"Kamu kenapa? Apa pantas pemilik wajah yang cantik harus mengeluarkan air mata yang begitu banyak?"
"Kamu gausah gombal, aku lagi sedih nih.. Rey masuk rumah sakit lagi karena ginjalnya.."
                Saat aku mendengar berita itu aku memang turut berduka. Sonya Pandarmawan begitulah nama jelasnya. Dia adalah perempuan yang aku suka semenjak SMP. Tapi sayang, perasaan ini tak pernah tersampaikan karena aku terlalu takut mendengar kata “kita berteman saja ya” atau ”kamu terlalu baik buat aku” darinya. Sampai akhirnya dia berlabuh di hati orang lain.
"Oya, Onya mau aku temenin jenguk si Rey? Yuk aku juga mau liat keadaan dia..'' Hiburku.
"Iya deh... Yuk makasih ya mau temenin aku.."
Setelah sampai di rumah sakit dengan seragam sekolah ini, Sonya tampak sedih lagi. Dengan pasrah kita berdua hanya bisa melihat Rey dari balik pintu karena kondisinya masih kritis.
"Onya jangan nangis, Rey pasti sembuh kok. Ada aku disini yang selalu nemenin Onya, kapanpun. Saat suka maupun duka.." ucapku.
"Makasih ya.. Kamu selalu ada buat aku dari SMP sampai sekarang, kamu yang selalu support aku.."
••••
Hari mulai berganti, memang setelah UN berakhir 2 hari yang lalu, kegiatan sekolah sudah tidak terlalu banyak. Banyak siswa-siswi yang ke sekolah hanya sekedar melepas penat, bertemu teman-teman lain atau bahkan pacaran, yah hal yang wajar. Tapi berbeda dengan Sonya saat itu.
                "Onya kenapa? Masih kepikiran Rey ya?" Sahutku.
"Iya aku sayang banget sama Rey, dia udah buat aku bahagia selama ini. Aku nggak mau liat dia gini terus.."
"Udah Onya udah.. Kita berdoa aja sama Tuhan semoga Rey dikasih kesembuhan. Nanti kalian bisa bahagia lagi deh berdua.."
Rey memang belum terlalu mengenal Sonya. Hanya sebulan PDKT, Rey langsung jadian dengan Sonya dan sekarang sudah terhitung hampir 3 tahun semenjak awal masuk SMA, walaupun pada waktu itu hatiku tersayat-sayat. Tapi sebagai sahabat yang setia aku tetap mendukung Sonya.
                Untuk menghibur dirinya, aku mengajak Sonya ke tempat dimana kita berdua sering kunjungi semasa SMP. Memang indah, disana tidak ada siapapun selain kita berdua.
Lawanlah daya tarik dari cinta 'jump jump jump' hatiku sedikit...
Belum selesai nada dering itu habis, Sonya mengangkat telfonku.
"Haloo ada apa nih?"
                Aku terdiam sejenak beda sekali suaranya ketika di telfon terdengar lebih indah. Ah, mungkin efek dia baru bangun tidur.
                "Haloooooooo.. ada apaa tumben telfon aku?" Tanya nya kesal.
"Eh iya Onyaa, maaf-maaf.. Tadi ngelamunin kamu dulu sih.."
"Apasih kamu ih, ada apa nih pagi-pagi udah telfon?"
"Hmm.. Gini Onya, mumpung sekarang hari minggu, aku pengin ngajak kamu ke tempat kita dulu sering kesana.. Kamu masih inget kan?"
"Hmm.. Gimana yaa.."
"Ayo harus mau, biar kamu nggak sedih kepikiran Rey terus.. Ayo mau ya? Aku jemput jam 7 pagi depan taman biasa? Oke?"
"Hmm.. Iyadeh, aku mandi dulu ya.. Hhehe.."
"Iyaaa, dandan yang cantik ya Onya.. Ehem.."
"Iyeee.. Cowok tukang gombal.." balasanya sambil tertawa
                Dengan motor sport merah ku berinisial “Macan” aku siap menjemput Sonya di taman seperti biasanya.
Rupanya Sonya tepat waktu, dia telah di tempat itu duluan. Aku terbelalak melihat wajahnya yang manis, rambut nya yang terurai panjang dan lesung pipitnya yang menggoda. Dia menggunakan rok hijau selutut dan baju pink yang indah, bagaikan boneka.
Sonya sedang duduk manis rupanya, aku mendekatinya. Di sisi ujung bangku panjang itu, ku hela nafasku hilangkan semua perandaian, sampai sekarang dan selamanya kuingin cintai dirinya selalu.
"Heeei.. Jangan ngelamun dong, yuk jadi kan?" Ucapnya.
"Ayo, aku kangen banget sama tempat itu.."
"Iyaa, aku kangen juga nih ke tempat itu.."
"Siap boneka manis ku, ayo kita berangkat.."
Sonya hanya tersenyum malu, kita berdua berangkat melupakan semua penat yang ada sambil berbincang di jalan. Kurang lebih 2 jam kami sampai di tempat. Iya, ini hanyalah sebuah danau yang jernih airnya dipenuhi pepohonan di sisi danau. Sangat tenang berada disini
“Gimana? Masih sama kaya dulu kan tempat ini ?“ tanyaku.
“Iya nih, nggak ada yang berubah sama sekali, masih indah kayak dulu kita sering kesini..“
”Ada satu lagi yang sebenernya nggak berubah..”
“Hah? Apa emangnya?”
“Cuma kamu sama aku yang ke tempat ini, nggak ada yang lain..”
“Ih.. Kamu bisa aja..” balasnya malu.
Sonya hanya tersenyum malu, pipinya memerah, lesung pipitnya terlihat lagi. Aku sangat menyukai tempat ini. Disini aku bisa merasakan bagaimana rasanya berada di sisi orang yang aku sayang dengan dekat dan lebih dalam.
“Oya Onya, aku belum pernah tahu, apa sih impian kamu selama ini setelah lulus sekolah?” tanyaku tiba-tiba.
“Mau tahu banget ya kamu?”
“Aku serius..”
“Sebenernya sih aku pengen jadi dokter, dokter anak pastinya. Aku suka banget anak kecil..”
Ternyata impian nya sama mulia denganku, persis malah.
“Kalo kamu ?” tanya Onya.
“Sama kok kaya kamu, iya dokter tapi dokter umum aja deh biar lebih banyak duitnya. Hhaha..”
“Selalu ya kamu.. Hhehe..”
“Eh tapi Onya, sebenernya impian aku berubah semenjak liat kamu. Aku sangat menyayangimu aku cinta kamu, aku lebih memilih membahagiakanmu dulu baru kemudian aku sukses..”
Entah sedang kerasukan apa tubuh ini, kalimat-kalimat yang sakral untukku sejak lama tiba-tiba keluar begitu saja dengan mulus dan tanpa kesalahan. Aku malu sebenarnya. Tetapi Onya hanya diam dan menunduk.
Detik demi detik, menit demi menit, hingga jam berganti, waktu dengan cepatnya aku habiskan semuanya disini. Aku lupakan semua urusan duniaku sejenak. Aku bercanda ria, aku tersenyum, bahkan tertawa sampai dicubit. Itu semua aku lakukan di tempat yang sama dengan suasana yang sama dan orang yang sama.
••••
Setelah sekian lama menunggu hasil pengumuman Ujian Nasional, akhirnya waktu yang ditunggu tiba. Aku dan Sonya mendapatkan nilai yang memuaskan. Aku tampak gembira karena itu akan membantuku saat mencari kuliah nanti.
"Onya, kita lulus loh.. Nilai aku bagus-bagus nih, kalo kamu gimana ? Seneng kan?" tanyaku.
"Hehe.. Iya selamat ya, aku seneng banget tahu..”
“Gimana nilai kamu? Sepuluh semua nggak kaya aku?”
“Hah? Nilai kamu sempurna dong ya? Aku cuman matematika nih yang nggak sepuluh.. Eh, bentar ya..”
Sonya mengangkat ponselnya yang berbunyi dan mencari tempat sepi karena disini terlalu ramai dengan suka cita kelulusan.
Tiba-tiba ia berlari ke arahku dengan muka bahagia.
“Rey udah sembuh! Rey udah bisa gerakin tanganya.. Ahh.. Aku seneng banget..” Ucapnya.
“Iyaa Onyaa, aku juga ikut seneng kok..”
                “Eh, yaudah ayo kita kerumah sakit sekarang. Ayo!”
Hampir 2 bulan lebih Rey tidak sadarkan diri dirumah sakit, setelah pengumuman UN itu aku dan Sonya langsung bergegas ke rumah sakit karena kata Ibu Rey, dia sudah bisa menggerakan tanganya.
"Tante, Rey udah sadaar? Ya Tuhan makasih banget.." ucap Onya.
"Iya Onya.. Tadi Rey udah sempet bangun malah, tapi disuruh dokter istirahat lagi.."
"Tuhkan Onya, Rey pasti sembuh kok. Udah ya Onya jangan nangis-nangis lagi. Jelek tahu.." Ucapku.
"Iyaa.. Ah, aku seneng banget orang yang aku sayang sekarang udah bakalan sehat lagi.." balasnya tersenyum.
Aku juga senang ketika mendengar Rey sudah siuman dan melihat wajah Sonya kembali ceria. Waktu berganti sangat cepat. Impianku harus ku kejar dari sekarang. Mulai setelah kelulusan SMA waktu itu aku langsung mencari-cari universitas yang sesuai. Sampai akhirnya pencapaianku berhasil. Aku diterima di UI. Ya, universitas yang sangat dikenal orang banyak.
Aku tidak mengabarkan Sonya sama sekali, yang hanya difikiranku saat itu, adalah ingin membahagiakan Sonya hidup bersama Rey lagi tanpa ada aku. Sakit rasanya, tapi aku rela.
Aku disini memulai kehidupan baru sebagai mahasiswa kedokteran di UI. Ya, cukup keren karena jurusan ini memang susah dan selalu banyak saingan setiap tahunnya. Tapi bagiku, semua sudah terlewati. Aku masih di Jakarta, terus menimba ilmu untuk masa depanku kelak. Dan disana Rey masih dalam tahap pemulihan. Ibunda Rey selalu mengabariku setiap saat, apapun yang Rey alami, entah sehat atau kembali kritis lagi. Aku belum sempat menjenguknya kembali karena mahasiswa kedokteran sepertiku ini selalu sibuk.
Akupun memberanikan diri mengambil hp disebelah meja dekat tv. Dengan nomor yang berbeda ku telfon Sonya. Ya sahabat baikku sekaligus orang yang aku dambakan.
"Halo ini siapa ya?" Tanya Onya serius.
"Ini aku, kamu nggak lupa kan?" Jawabku.
"Siapa sih? Ohhh, yang kemarin-kemarin itu pindah ke Jakarta dan ninggalin aku disini? Makasih, semoga kamu sukses!”
*Tut tut tut tut*
Telfon itupun mati. Entah kenapa, Sonya marah sampai seperti itu kepadaku. Keadaan mulai berbeda saat ini, aku akan di wisuda. Ya walau hanya 3 tahun. Ah, 3 tahun tidak terasa. Yang biasanya jurusan ini ditempuh 6 tahun, tapi mungkin karena kejeniusanku ini, hanya 3 tahun aku bisa selesaikan semuanya. Di sana pun Sonya dan Rey sudah hidup bahagia. Aku sudah siap menyongsong hidup menjadi orang sukses.
••••
Kabar buruk menimpa Rey lagi. Ternyata ginjal Rey yang satu-satunya itu harus rusak lagi. Ia berhenti menjadi atlit lari semenjak SMA karena ia mendonorkan satu ginjalnya kepada orang lain. Sungguh mulia.
Akhirnya aku kembali ke Bandung dan mencoba berbicara langsung dengan Rey di rumah sakit.
                "Lo kenapa sih? Masih aja dipaksain Rey.. Gue nggak mau liat sahabat gue nangis lagi gara-gara lo nya gini terus.." Ucapku.
"Maaf ya, gue emang nakal, gue emang gini. Gue minta titip Onya buat gue ya sob, gue tau lo sahabatnya dari SMP, lo pasti bisa jaga dia.." balasnya lemas.
"Nggak, lo harus sembuh. Gue mau liat lo berdua bahagia kaya dulu lagi.."
                Aku berbicara dengan dokter, memang kondisinya sudah parah. Rey membutuhkan pendonor yang ginjalnya masih sehat agar Rey bisa hidup normal lagi.
"Dokter, kenapa lagi sama Rey dok? Cerita dok.." Ucap Sonya saat aku sedang berbicara dengan dokter.
"Sabar ya nak, Rey nggak apa-apa kok. Cuman kecapekan, sabar kamu harus tenang.."
Aku langsung menarik Sonya keluar dari ruangan. Ku tenangkan dia, ku usap air mata nya, ku tarik lesung pipitnya agar ia tersenyum walau harus terpaksa.
"Sonya kamu sayang Rey banget kan? Jawab.." tanyaku.
"Iya, aku nggak mau kehilangan Rey. Aku sayang banget sama dia.." balasnya.
"Aku janji bakal buat kalian bahagia selamanya, aku janji.." ucapku lagi.
Setelah janji itu, aku pergi dari Sonya.
Pagi itu cerah. Sekarang Rey sudah sehat dan bisa berjalan lagi. Ginjalnya sudah sehat dan sudah lengkap. Setelah itu Sonya datang dengan wajahnya yang sumringah melihat kekasihnya kembali seperti orang biasa. Tetapi tidak dengan Rey.
"Aku bangga dengan sahabatmu.." ucap Rey dengan raut wajah sedih.
"Siapa? Dia? Dia kemarin memang datang dan ngobrol gitu sama dokter, emang dia kenapa sih?”
"Baca ini, aku malu dengan dia yang bisa menghargai hidup orang lain. Sedangkan aku sendiri tidak.." ucap Rey sambil memberikan sebuah surat.
Hai Sonya, hai sahabat ku yang selama ini aku sayang.. Oya, makasih ya buat waktunya pas kita ke danau. Itu adalah hal terakhir yang paling indah yang pernah aku lakuin sama kamu. Aku nggak mau ya lihat kamu nangis dan sedih lagi. Aku mau kamu hidup bahagia sama Rey. Aku masih ingat janjiku ke kamu, “Sebelum masa depanku tercapai, aku ingin buat orang yang aku sayang bahagia terlebih dahulu”. Sekarang aku udah lakuin itu semua buat kamu dan Rey. Dua ginjal ku yang sehat ini sudah ada di tubuh Rey. Kalau kamu rindu sama aku, pergi aja ke tempat favorit kita. Tempat terakhir aku bisa ngobrol lepas sama kamu. Mungkin disana rindumu akan berkurang. Hhehe.. Tapi, anggap aku masih ada ya? Walau hanya dalam kenangan yang indah. Selamat tinggal Sonya.. ^_^
Sonya tergeletak, ia kembali meneteskan air matanya. Rey yang masih sedikit lemas mencoba menenangkan Sonya yang tersungkur lemas.
                "Dia laki-laki yang baik, kamu beruntung mempunyai sahabat sepertinya Onya.." ucap Rey.
"Dia sahabat terbaik aku, dia rela dampingin aku dalam keadaan apapun. Saat sedih maupun bahagia, dia selalu ada buat aku, bahkan saat kamu sakit selama ini..” balasnya sambil menangis.
Rey hanya tersenyum. Ia kembali lagi menjadi manusia yang utuh dan hidup bahagia dengan Sonya.
Dan aku pun baru mengerti, mencintai seseorang adalah sebuah karunia Tuhan. Menjaganya adalah pengorbanan dan menyayanginya adalah keteguhan. Sonya akan menangis bahagia melihatku mencapai impianku, membahagiakannya walau harus menjemput maut..
“Apa yang kita dapatkan akan membuat kita hidup. Tetapi, apa yang kita berikan akan membuat sebuah kehidupan..”

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Total Tayangan Halaman

Translate

Blog Archive

Twitter

Copyright © Detective 48 Family -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan